18.4 C
New York
September 16, 2026
Berita

Bukan Sekadar Hiasan Sudut Kelas, Pojok Baca SDN 2 Bayuning Jadi Ajang Adu Kreativitas dan Gairah Literasi Siswa

KUNINGAN – Ada pemandangan menarik di SDN 2 Bayuning, Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan. Sudut-sudut kelas yang biasanya hanya menjadi bagian kosong ruangan, kini berubah menjadi ruang penuh warna yang dipenuhi buku dan kreativitas siswa.

Bukan sekadar mempercantik ruang belajar, setiap kelas di SDN 2 Bayuning tengah berlomba menghadirkan pojok baca terbaik sebagai bagian dari upaya mendorong budaya literasi di lingkungan sekolah.

Uniknya, koleksi buku yang menghiasi setiap pojok baca bukan semata-mata berasal dari sekolah. Buku-buku tersebut dikumpulkan secara bersama oleh para siswa di masing-masing kelas.

Dengan demikian, pojok baca bukan hanya menjadi fasilitas membaca, tetapi juga menjadi bentuk keterlibatan langsung siswa dalam membangun budaya literasi di kelasnya.

Setiap kelas memiliki cara dan kreativitas masing-masing. Ada yang menata buku dalam rak sederhana, menghias dinding dengan berbagai ornamen edukatif, membuat papan informasi, hingga menghadirkan suasana pojok baca yang dibuat senyaman mungkin agar siswa tertarik untuk datang dan membaca.

Persaingan antarkelas pun menjadi semakin menarik karena setiap kelompok berusaha menunjukkan keunggulan masing-masing.

Kepala SDN 2 Bayuning, Titin Suhartini, S.Pd., M.M., mengatakan perlombaan pojok baca tersebut tidak hanya bertujuan untuk melihat kelas mana yang memiliki tampilan paling menarik.

Menurutnya, ada sejumlah aspek yang menjadi penilaian dalam perlombaan tersebut.

“Yang dinilai bukan hanya bagus atau tidaknya pojok baca. Ada beberapa aspek, di antaranya kelengkapan koleksi buku, kebersihan dan kerapihan, kreativitas dan estetika, pemanfaatan, kepengurusan, serta keberlanjutan,” ujar Titin.

Aspek kelengkapan koleksi buku menjadi salah satu perhatian penting. Semakin beragam buku yang tersedia, diharapkan semakin banyak pula pilihan bacaan yang dapat dinikmati siswa.

Sementara aspek kebersihan dan kerapihan berkaitan dengan bagaimana siswa menjaga serta menata pojok baca agar tetap nyaman digunakan.

Tak kalah penting adalah kreativitas dan estetika. Setiap kelas diberikan ruang untuk berkreasi sehingga pojok baca tidak tampil seragam. Justru dari sinilah terlihat ide-ide kreatif siswa dalam mengubah sudut kelas menjadi ruang literasi yang menarik.

Selain itu, sekolah juga melihat bagaimana pojok baca tersebut benar-benar dimanfaatkan. Artinya, pojok baca tidak berhenti sebagai pajangan setelah perlombaan selesai, tetapi harus menjadi bagian dari aktivitas belajar sehari-hari.

Ada pula aspek kepengurusan dan keberlanjutan, yang menjadi penegasan bahwa program ini diharapkan dapat terus berjalan. Siswa tidak hanya membuat pojok baca, tetapi juga belajar bertanggung jawab mengelola, merawat, menambah koleksi, serta memastikan buku-buku tetap dapat digunakan.

“Harapannya, pojok baca ini bukan hanya bagus ketika dinilai. Setelah lomba selesai pun tetap dimanfaatkan dan dirawat oleh anak-anak,” tambahnya.

Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya SDN 2 Bayuning dalam membangun kebiasaan membaca sejak dini.

Untuk memperkuat gerakan literasi, SDN 2 Bayuning juga memiliki program “SDN 2 Bayuning MACA”, yang merupakan akronim dari Mandiri, Akhlakul Karimah, Cerdas, dan Adaptif Teknologi.

Melalui program tersebut, kegiatan literasi tidak hanya diarahkan pada kemampuan siswa membaca buku, tetapi juga diharapkan mampu membentuk karakter dan kemampuan siswa secara lebih menyeluruh.

Kegiatan membaca menjadi pintu masuk untuk membangun siswa yang mandiri dalam mencari pengetahuan, memiliki akhlak yang baik, cerdas dalam berpikir, sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Menariknya, semangat literasi dalam lomba pojok baca ini tumbuh dari bawah. Para siswa ikut berkontribusi dengan membawa dan mengumpulkan buku yang mereka miliki untuk kemudian dimanfaatkan sebagai koleksi kelas.

Hal tersebut membuat setiap pojok baca memiliki cerita dan karakter tersendiri.

Bagi sekolah, yang terpenting bukanlah sekadar siapa yang menjadi juara dalam perlombaan. Lebih jauh dari itu, kegiatan tersebut diharapkan mampu membuat siswa semakin dekat dengan buku.

Sebab, ketika sebuah sudut kelas yang sebelumnya biasa saja berubah menjadi tempat yang mengundang rasa penasaran, maka membaca tidak lagi terasa seperti kewajiban.

Ia bisa tumbuh menjadi kebiasaan.

Dan dari sudut kecil sebuah kelas di SDN 2 Bayuning, budaya literasi itu sedang dibangun, satu buku, satu siswa, dan satu kebiasaan membaca setiap hari.

Related posts

Stay Healthy By Eating According To Your Blood Type

Admin

What’s The Difference Between Vegan And Vegetarian?

Admin

This Chicken Pesto And Zucchini “Pasta” Makes The Perfect Dinner

Admin

Leave a Comment