18.4 C
New York
September 16, 2026
BeritaTerbaru

Perempuan, Hukum, dan Keberanian: Potret Imas Khaeriyah Primasari

Ada banyak orang mengenal hukum hanya dari ruang sidang, meja hijau, palu hakim, dan tumpukan pasal yang terasa rumit.

Namun bagi Imas Khaeriyah Primasari, S.H., M.H., hukum bukan sekadar rangkaian pasal yang harus dihafalkan.

Di balik setiap perkara, ada seseorang yang sedang mencari keadilan. Ada keluarga yang sedang menunggu kepastian. Ada orang yang sedang mempertaruhkan masa depan. Dan ada pula mereka yang mungkin tidak memiliki cukup pengetahuan maupun kekuatan untuk memperjuangkan haknya sendiri.

Di sanalah Imas memilih berdiri. Perempuan asal Indramayu ini telah menekuni dunia advokat sejak 2008. Perjalanan panjang tersebut membawanya melewati beragam perkara, pengalaman, sekaligus pelajaran tentang kehidupan.

Selama bertahun-tahun mengenakan profesi sebagai advokat, Imas mengaku menemukan banyak hal menarik.

Ada perkara yang menguras pikiran. Ada pula pengalaman yang membuat dirinya semakin memahami bahwa profesi advokat bukan hanya tentang menang atau kalah di ruang persidangan.

“Sudah sekitar 17 tahun saya berprofesi sebagai Advokat, tentunya banyak hal menarik, suka dan duka, pokoknya hal-hal yang bagi saya sangat luar biasa,” ungkapnya dalam sebush wawancara.

Salah satu pengalaman yang membekas dalam perjalanan profesional Imas terjadi ketika ia menjadi salah satu penasihat hukum dalam perkara pembunuhan di Kulonprogo, Yogyakarta.

Perkara tersebut pada akhirnya dihentikan melalui SP3 setelah pelakunya dinyatakan mengalami gangguan jiwa.

Bagi seorang advokat, perkara semacam itu bukan hanya persoalan dokumen, pasal, dan argumentasi hukum.

Di baliknya terdapat manusia dengan segala kompleksitas kehidupannya. Pengalaman demi pengalaman semacam itulah yang kemudian membuat Imas semakin matang dalam menjalani profesinya.

Dunia hukum, menurutnya, selalu menarik untuk diurai.
Setiap persoalan memiliki cerita. Setiap perkara mempunyai latar belakang. Dan setiap orang yang datang meminta bantuan hukum membawa persoalan hidupnya masing-masing.

“Saya senang saja kalau bisa mengurai persoalan hukum,” katanya.

Kalimat sederhana itu justru menggambarkan bagaimana Imas memandang profesinya.
Ia tidak melihat hukum sebagai sesuatu yang hanya boleh dipahami oleh mereka yang berkecimpung di ruang akademik atau pengadilan.

Baginya, hukum harus dapat menjadi jalan bagi seseorang untuk mendapatkan kejelasan dan keadilan.
Dari Indramayu untuk Perkara yang Lebih Luas
Perjalanan Imas kemudian tidak berhenti pada perkara-perkara di daerah.

Namanya juga muncul dalam sejumlah tim penasihat hukum yang menangani perkara yang mendapatkan perhatian publik secara nasional.

Di antaranya pengajuan Peninjauan Kembali (PK) Saka Tatal serta perkara korupsi dan suap yang berkaitan dengan putusan bebas Ronald Tannur.
Keterlibatan dalam perkara-perkara tersebut menjadi bagian lain dari perjalanan profesional Imas.

Namun di balik perkara besar yang mendapatkan sorotan, ada satu hal yang tetap menjadi perhatian dirinya: bagaimana profesi advokat dapat memberikan manfaat kepada masyarakat.

Ia memiliki keinginan untuk membantu memberikan pendampingan hukum kepada masyarakat kecil sekaligus menjadi advokat dan konsultan hukum bagi perusahaan-perusahaan besar di Indonesia.

Di satu sisi, masyarakat yang mungkin datang dengan keterbatasan pengetahuan dan kemampuan.
Di sisi lain, dunia korporasi dengan persoalan hukum yang kompleks. Tetapi bagi Imas, keduanya tetap memiliki satu titik temu: kebutuhan terhadap pendampingan hukum yang baik.

Menjadi perempuan di dunia hukum tentu memiliki tantangan tersendiri.
Namun Imas tidak menjadikan tantangan tersebut sebagai alasan untuk berhenti.

Justru perjalanan panjangnya menunjukkan bahwa ketekunan sering kali menjadi kekuatan terbesar seseorang.

Ia menyelesaikan pendidikan Magister Ilmu Hukum pada 2014. Di tengah perjalanan sebagai advokat, ia juga menjalani peran sebagai dosen di Fakultas Hukum Universitas Wiralodra.

Sebagai advokat, ia berhadapan dengan persoalan hukum yang nyata. Sebagai dosen, ia berhadapan dengan generasi muda yang sedang belajar memahami hukum.

Pengalaman di lapangan dapat menjadi pelajaran.
Sebaliknya, dunia akademik membuat seseorang terus dituntut memperbarui pengetahuan.
Di antara ruang kuliah dan dunia praktik itulah perjalanan Imas terus berkembang.

Mungkin inilah bagian paling manusiawi dari profesi seorang advokat. Orang yang datang meminta bantuan hukum biasanya tidak sedang berada dalam kondisi terbaik hidupnya.

Mereka datang karena memiliki persoalan.
Ada yang sedang menghadapi perkara pidana.
Ada yang berhadapan dengan persoalan perdata.
Ada yang membutuhkan kepastian atas haknya.

Dan ada pula yang sekadar membutuhkan seseorang untuk menjelaskan: sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan persoalan hukum yang mereka hadapi?

Seorang advokat bukan hanya dituntut menguasai hukum. Ia juga harus mampu mendengarkan.
Mampu memahami. Mampu menjelaskan persoalan yang rumit dengan bahasa yang dapat dimengerti.

Dan yang tidak kalah penting, mampu menjaga kepercayaan orang yang datang membawa persoalannya. Perjalanan 17 tahun membuat Imas memahami bahwa pengalaman tidak selalu datang dari perkara yang mudah. Justru perkara-perkara sulit sering kali meninggalkan pelajaran paling dalam.

Di tengah perjalanan panjangnya, Imas memiliki sebuah keyakinan sederhana.
Tidak ada sesuatu yang benar-benar mustahil selama seseorang mau berusaha dan tidak menyerah.

“Tidak ada yang tidak bisa dan tidak mungkin jika kita mau berusaha tanpa putus asa,” ujarnya sambil tersenyum.

Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana.
Tetapi bagi seseorang yang telah melewati belasan tahun perjalanan profesional, kalimat itu tentu lahir dari pengalaman.

Sebab dunia profesi tidak selalu berjalan lurus.
Ada keberhasilan.
Ada kegagalan.
Ada perkara yang selesai dengan baik.
Ada pula persoalan yang meninggalkan banyak pelajaran.

Yang membedakan seseorang bukanlah apakah ia pernah menghadapi kesulitan atau tidak.
Melainkan apakah ia memilih berhenti atau terus berjalan ketika kesulitan itu datang.
Imas memilih berjalan.

Perempuan Indramayu yang Terus Melangkah
Dari Indramayu, Imas Khaeriyah Primasari membangun perjalanan profesionalnya sedikit demi sedikit.
Bukan dengan cerita bahwa semuanya mudah.
Justru karena perjalanan itu tidak selalu mudah, setiap langkah menjadi berarti.

Hari ini, ia dikenal sebagai advokat sekaligus akademisi. Namun di balik gelar dan profesinya, ada seorang perempuan yang menikmati proses mengurai persoalan, belajar dari setiap perkara, dan terus membuka ruang bagi dirinya untuk berkembang.

Ia tidak sedang mengatakan bahwa menjadi advokat itu mudah.
Ia hanya menunjukkan bahwa seseorang bisa terus bertumbuh ketika tidak takut menghadapi tantangan.
Sebab pada akhirnya, profesi hukum bukan hanya tentang siapa yang paling pandai membaca pasal.

Ada keberanian untuk berdiri.
Ada ketekunan untuk mencari jalan.
Ada empati untuk memahami manusia.
Dan ada keyakinan bahwa keadilan selalu layak diperjuangkan.

Imas Khaeriyah Primasari mungkin hanya satu nama di antara banyak perempuan yang memilih dunia hukum.
Tetapi dari perjalanan panjangnya, ada satu pesan yang terasa kuat:

Jangan berhenti hanya karena jalan terasa sulit. Sebab bisa jadi, justru setelah melewati jalan yang panjang itulah seseorang menemukan arti dari perjuangannya.
Dan bagi perempuan asal Indramayu ini, perjalanan tersebut masih terus berlanjut.

Related posts

Geger! 4 Siswa SMA di Kuningan Kompak Jadi Pengedar Narkoba Jenis Sinte

Admin

Saur Kang Yai: Dari Lelah Menjadi Lillah

Admin

Kejagung Hadirkan Bukti dan Ahli di Sidang Praperadilan Nadiem Makarim

Admin

Leave a Comment