18.4 C
New York
September 16, 2026
Cerpen

Kerinduan Seorang Pengacara Janda, di Balik Jubah Hitam

Palu hakim belum diketukkan.

Namun suasana ruang sidang Pengadilan Negeri sudah terasa tegang.

Di meja kuasa hukum tergugat, seorang perempuan berjilbab hitam duduk dengan punggung tegak. Usianya enam puluh tahun, tetapi tidak seorang pun berani menganggapnya lemah.

Namanya Lita Prameswari.

Seorang pengacara senior yang telah puluhan tahun berhadapan dengan berbagai perkara sulit. Selain dikenal sebagai advokat, Lita juga seorang pengusaha dan aktif dalam dunia politik.

Tegas.

Cerdas.

Mandiri.

Begitulah orang-orang mengenalnya.

Bagi banyak orang, Lita adalah gambaran perempuan sukses yang tidak membutuhkan siapa pun untuk menopang hidupnya.

Hari itu ia membela Hendra Wijaya, seorang pengusaha senior yang dituduh menggelapkan dana perusahaan sebesar dua belas miliar rupiah.

Perkara tersebut sudah berlangsung cukup lama. Bukti-bukti yang diajukan pihak pelapor terlihat meyakinkan. Bahkan beberapa media telah lebih dulu membentuk opini bahwa Hendra memang bersalah.

Namun Lita tidak pernah bekerja berdasarkan opini.

Ia bekerja berdasarkan bukti.

Ketika majelis hakim hendak membacakan putusan, Lita tiba-tiba berdiri.

“Yang Mulia, kami memohon izin agar majelis mempertimbangkan satu bukti tambahan.”

Suasana ruang sidang seketika berubah.

Pihak lawan langsung mengajukan keberatan.

“Keberatan, Yang Mulia. Bukti tersebut diajukan di luar tahapan yang seharusnya.”

Lita tetap tenang.

“Bukti ini baru kami terima setelah dilakukan audit independen. Kami tidak bermaksud mengulur persidangan, Yang Mulia. Kami hanya ingin memastikan bahwa putusan tidak dibangun di atas informasi yang tidak lengkap.”

Majelis kemudian memeriksa dokumen tersebut.

Beberapa menit kemudian, ekspresi para hakim berubah.

Bukti audit independen menunjukkan bahwa uang dua belas miliar rupiah itu ternyata tidak masuk ke rekening pribadi Hendra.

Dana tersebut justru mengalir ke sebuah perusahaan lain yang saham mayoritasnya dimiliki saudara kandung pihak pelapor.

Ruangan yang sebelumnya dipenuhi bisik-bisik mendadak sunyi.

Lita menyerahkan dokumen itu kepada majelis.

“Karena itu, kami tidak meminta majelis mempercayai perkataan saya.”

Ia berhenti sejenak.

“Kami hanya meminta majelis melihat bukti.”

Beberapa saat kemudian, putusan dibacakan.

Sebagian besar tuduhan terhadap Hendra tidak terbukti.

Palu hakim diketukkan tiga kali.

Lita menang.

Lagi.

Seperti yang sudah berkali-kali ia lakukan selama puluhan tahun.

“Selamat, Bu Lita.”

“Hebat sekali, Bu.”

“Seperti biasa, Ibu berhasil.”

Beberapa orang langsung menghampirinya.

Lita hanya tersenyum tipis sambil merapikan dokumen-dokumennya.

Bagi orang lain, kemenangan itu adalah sesuatu yang besar.

Bagi Lita, itu hanyalah satu pekerjaan yang telah selesai.

Ia tidak merayakannya.

Tidak ada sorak-sorai.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada seseorang yang menunggunya di luar ruang sidang sambil berkata, Aku bangga padamu.

Hanya pekerjaan.

Lalu pekerjaan berikutnya.


Begitu keluar dari ruang sidang, beberapa wartawan sudah menunggunya.

“Bu Lita, apakah Ibu puas dengan putusan hari ini?”

Lita tersenyum.

“Saya puas kalau hukum memberikan ruang yang adil bagi semua pihak.”

“Apakah Ibu yakin klien Ibu tidak bersalah?”

“Saya tidak bertugas menentukan seseorang bersalah atau tidak. Saya bertugas memastikan seseorang tidak dihukum hanya karena opini.”

“Bagaimana kalau pihak lawan mengajukan upaya hukum?”

“Kami siap menghadapinya sesuai ketentuan hukum.”

Satu pertanyaan kemudian terdengar.

“Apakah kemenangan ini akan berpengaruh terhadap karier politik Ibu?”

Lita berhenti sejenak.

Kemudian tersenyum.

“Saya datang ke sini sebagai pengacara. Jangan campur ruang sidang dengan politik.”

Ia tidak memberi kesempatan untuk pertanyaan berikutnya.

Lita berjalan menuju lift.

Sendirian.

Begitu pintu lift tertutup, senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan menghilang.

Ia mengembuskan napas panjang.

Punggungnya bersandar pada dinding lift.

Tangannya menyentuh dada.

Bukan karena sakit.

Ia hanya lelah.

Sangat lelah.

Selama bertahun-tahun, Lita telah belajar satu hal:

Di depan orang lain, ia tidak boleh terlihat rapuh.

Maka ketika pintu lift terbuka di lantai dasar, ia kembali menegakkan tubuh.

Wajahnya kembali tenang.

Senyumnya kembali terpasang.

Perempuan kuat itu kembali muncul.


“Selamat, Bu.”

Pak Darto, sopir pribadinya, segera membukakan pintu mobil.

“Terima kasih, Pak.”

“Ke kantor dulu?”

Lita menggeleng.

“Langsung pulang.”

Pak Darto menoleh sekilas.

Ia sedikit heran.

Biasanya setelah sidang, Lita masih memiliki berbagai agenda. Rapat perusahaan, pertemuan dengan kolega politik, atau sekadar makan malam bersama rekan bisnis.

Namun hari itu berbeda.

“Baik, Bu.”

Mobil perlahan meninggalkan halaman pengadilan.

Lita menyandarkan tubuhnya di kursi dan memejamkan mata.

Baru beberapa menit perjalanan, ponselnya bergetar.

Satu pesan dari staf kantor.

Kemudian panggilan dari rekan politik.

Disusul permintaan persetujuan dari salah satu perusahaan yang dipimpinnya.

Lalu pesan dari wartawan.

Semuanya membutuhkan dirinya.

Lita membuka satu per satu pesan tersebut.

Tidak ada yang penting-penting amat.

Tetapi semuanya harus dijawab.

Semuanya menunggu keputusan darinya.

Tidak ada satu pun yang bertanya:

“Sudah makan?”

Lita menatap layar ponselnya cukup lama.

Kemudian menguncinya.

Ia memandang ke luar jendela.

Di sebuah lampu merah, pandangannya tertahan pada sepasang suami istri yang sedang mengendarai sepeda motor.

Sang suami mengemudi.

Istrinya duduk di belakang.

Sesekali lelaki itu menoleh sedikit ke belakang, seolah memastikan istrinya baik-baik saja.

Tidak ada yang istimewa dari pemandangan itu.

Hanya pasangan biasa.

Namun entah mengapa, sesuatu menusuk lembut ke dalam dada Lita.

“Pak Darto.”

“Ya, Bu?”

“Pelankan sedikit.”

“Baik.”

Mobil berjalan lebih perlahan.

Lita terus memandangi pasangan itu sampai akhirnya mereka menghilang di antara kendaraan lain.

Entah mengapa, sebuah kata tiba-tiba muncul dalam pikirannya.

Rindu.

Lita segera mengalihkan pandangan.

Seolah takut dirinya sendiri mendengar pengakuan itu.


Rumah Lita berada di kawasan elite.

Pagar tinggi.

Halaman luas.

Taman yang selalu terawat.

Rumah itu tampak sempurna dari luar.

Lambang keberhasilan seorang perempuan yang telah menghabiskan puluhan tahun membangun hidupnya sendiri.

Namun begitu pintu rumah dibuka, semua kesan itu berubah.

Sepi.

Sangat sepi.

“Selamat datang, Bu.”

Asisten rumah tangga menyambutnya.

“Terima kasih.”

“Makan siang sudah disiapkan.”

“Nanti saja.”

Lita meletakkan tasnya.

Ia tidak langsung menuju ruang makan.

Langkahnya justru membawa dirinya ke ruang keluarga.

Di sana terdapat sebuah foto lama.

Foto dirinya bersama seorang lelaki.

Suaminya.

Arif Pranata.

Lita berdiri di depan foto tersebut.

Hampir lima tahun sudah Arif pergi meninggalkannya.

Lelaki itu dahulu seorang pengusaha sukses. Tegas, pekerja keras, tetapi sangat bertanggung jawab terhadap keluarga.

Lita memandangi wajah suaminya cukup lama.

“Menang lagi hari ini, Pak.”

Senyum kecil muncul di wajahnya.

Namun senyum itu tidak bertahan lama.

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Kalau kamu masih ada, pasti bilang aku terlalu keras.”

Lita terkekeh pelan.

Kemudian mengusap sudut matanya.

Arif memang bukan lelaki romantis.

Ia tidak pandai merangkai kata.

Tidak terbiasa memberi bunga.

Tidak suka memberikan hadiah mahal tanpa alasan.

Tetapi Arif memiliki sesuatu yang tidak pernah Lita lupakan.

Ketika Lita menghadapi masalah, Arif selalu berkata:

“Biar aku yang urus.”

Hanya empat kata.

Sederhana.

Namun bagi Lita, empat kata itu pernah menjadi tempat paling aman di dunia.

Ketika bisnisnya bermasalah, Arif mendengarkan.

Ketika Lita menghadapi persoalan keluarga, Arif berdiri di sampingnya.

Ketika Lita pulang larut malam, Arif menunggu.

Dan hampir setiap malam, ketika Lita baru masuk rumah, pertanyaan yang sama selalu terdengar.

“Sudah makan?”

Dulu Lita menganggapnya biasa.

Sekarang ia tahu, justru hal-hal sederhana seperti itulah yang paling sulit digantikan.

Kini tidak ada lagi suara itu.


Lita masuk ke kamar.

Jubah hitamnya dilepas dan digantung dengan rapi.

Ia kemudian berdiri di depan cermin.

Perempuan berusia enam puluh tahun itu menatap bayangannya sendiri.

Wajahnya masih terawat.

Hijabnya tetap rapi.

Pakaian kerjanya tetap menunjukkan wibawa.

Tidak banyak orang percaya bahwa perempuan seperti dirinya bisa merasa kesepian.

Namun cermin tidak pernah pandai berbohong.

Ada kelelahan di matanya.

Ada kesedihan yang selama ini ia sembunyikan.

Lita duduk di tepi ranjang.

Ponselnya kembali bergetar.

Kali ini ia sempat berharap salah satu anaknya menelepon.

Namun harapan itu segera hilang.

Staf kantor.

“Bu, maaf mengganggu. Ada dokumen yang harus ditandatangani malam ini.”

Lita memejamkan mata.

“Besok saja.”

“Baik, Bu.”

Telepon berakhir.

Sunyi kembali memenuhi kamar.

Anak-anaknya sudah dewasa.

Mereka telah memiliki pekerjaan, keluarga, dan kehidupan masing-masing.

Lita tidak pernah meminta mereka tinggal bersamanya.

Ia justru selalu mendorong anak-anaknya untuk mengejar kehidupan mereka sendiri.

Ia ingin mereka bahagia.

Tetapi terkadang, ketika malam datang dan rumah menjadi terlalu sunyi, pertanyaan itu muncul.

Kalau semua orang sudah memiliki kehidupan masing-masing, siapa yang akan menemani hidupnya?

Lita berbaring.

Matanya menatap langit-langit.

Pikirannya kembali kepada Arif.

Kepada suaranya.

Kepada tatapannya.

Kepada tangannya.

Kepada kebiasaan-kebiasaan kecil yang dulu sering dianggapnya biasa.

Ia tiba-tiba merindukan sesuatu yang sangat sederhana.

Bukan harta.

Bukan jabatan.

Bukan popularitas.

Bukan pula kekuasaan.

Ia hanya ingin ketika pulang ke rumah ada seseorang yang berkata:

“Kamu sudah pulang.”

Satu air mata mengalir dari sudut matanya.

Kali ini Lita tidak menghapusnya.

Malam itu ia tidak ingin menjadi pengacara.

Tidak ingin menjadi pengusaha.

Tidak ingin menjadi politisi.

Tidak ingin menjadi perempuan yang selalu kuat.

Malam itu ia hanya ingin menjadi Lita.

Seorang perempuan.

Seorang ibu.

Seorang janda.

Seorang manusia yang ternyata masih memiliki ruang kosong di dalam hatinya.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Lita berani mengakui sesuatu kepada dirinya sendiri.

Mandiri tidak selalu berarti tidak membutuhkan seseorang.

Ia mampu mengurus semuanya sendiri.

Ia mampu mengambil keputusan sendiri.

Ia mampu menghadapi masalah sendiri.

Tetapi ternyata…

ia tidak selalu ingin melakukannya seorang diri.

Ia masih ingin diperhatikan.

Masih ingin didengarkan.

Masih ingin dilindungi.

Masih ingin memiliki seseorang yang bisa menjadi tempat mengadu ketika dunia terasa terlalu berat.

Bukan lelaki yang ingin mengambil alih hidupnya.

Bukan lelaki yang datang karena hartanya.

Bukan lelaki yang ingin menggantikan Arif.

Lita tahu, tidak akan pernah ada seseorang yang benar-benar bisa menggantikan masa lalu.

Ia hanya menginginkan seseorang yang mampu menghargai masa lalu itu.

Seseorang yang tidak takut berjalan berdampingan dengannya.

Seseorang yang ketika ia sudah terlalu lelah untuk menjadi kuat, cukup berkata:

“Sudah. Sekarang kamu istirahat. Aku ada di sini.”

Lita membuka mata.

Pandangannya jatuh pada foto Arif di meja samping tempat tidur.

Ia mengambil foto itu dan menggenggamnya.

“Maaf, Mas.”

Suaranya nyaris tak terdengar.

“Kalau suatu hari nanti aku ingin bahagia lagi…”

Lita terdiam.

Dadanya terasa sesak.

Air mata kembali jatuh.

“…apa itu berarti aku melupakanmu?”

Tidak ada jawaban.

Hanya suara pendingin ruangan.

Dan kesunyian yang panjang.

Lita memejamkan mata.

Ia belum tahu bahwa malam itu bukanlah akhir dari kesepiannya.

Justru malam itulah awal dari sesuatu yang baru.

Sebuah perjalanan yang akan membawanya berhadapan dengan masa lalu, anak-anaknya yang telah dewasa, dunia hukum, bisnis, politik, dan sebuah perasaan yang selama ini ia kira sudah mati bersama Arif.

Kelak, seorang lelaki akan hadir dalam hidupnya.

Bukan ketika Lita masih muda.

Bukan ketika ia membutuhkan seseorang untuk membangun hidup.

Tetapi ketika ia telah memiliki hampir semuanya.

Seorang lelaki yang mungkin tidak datang untuk menyelamatkannya.

Tidak datang untuk menguasai hidupnya.

Tidak pula datang untuk menggantikan Arif.

Mungkin lelaki itu hanya datang untuk satu hal sederhana.

Menemani Lita menua.

Dan tanpa Lita sadari…

pertemuan itu akan menguji bukan hanya hatinya, tetapi juga harga dirinya, keluarganya, kariernya, dan seluruh prinsip yang selama puluhan tahun ia pegang teguh.

Related posts

The Workout Plan To Get Ripped Without Breaking A Sweat

Admin

Meet The Women At The Head of The Gym Revolution

Admin

Build Muscle By Making This Simple Tweak to Your Training Program

Admin

Leave a Comment